Hambatan Menjadi Peluang

Sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus pada abad ke-15 dan diketahui bahwa benua baru tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, ribuan orang dari Eropa, khususnya Inggris, berduyun-duyun datang ke sana. Puncaknya adalah di abad 19 ketika terjadi demam emas.

Tersebutlah seorang pria yang juga datang ke Amerika hendak menambang emas, namun betapa kecewanya ia menerima kenyataan bahwa setibanya ia di Amerika, emas yang diimpikan sudah habis. Sementara uang untuk pulang sudah menipis. Dengan gontai dan pikiran kosong, ia berjalan mendekati kereta kudanya.

Untuk sekian menit, pikirannya menerawang entah ke mana, sambil tangannya memegang terpal penutup kereta kudanya. Ahaa! Tiba-tiba datang ide cemerlang ke dalam pikirannya. Dengan tangan masih memegang terpal penutup kereta kuda, ia memandang ke arah penambang yang sedang bekerja keras mengumpulkan butiran emas, dengan kondisi pakaian yang sudah tidak jelas. Sontak muncul ide cerdas di pikirannya. Ia bertanya di dalam hati, Mengapa tidak ada celana khusus penambang yang terbuat dari bahan yang kuat seperti terpal ini? Selain lebih awet, kulit penambang juga bisa terlindungi dari goresan yang bisa membuat sakit.

Siapa yang menyangka, berawal dari rasa frustasi akibat gagal menjadi penambang emas, pria tadi secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat bahan celana yang terbuat dari terpal. Bahan celana yang kelak disebut jeans itu kini sudah dipakai di seluruh dunia, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari mode. Pria itu bernama Levi Strauss, seorang Yahudi-Jerman, yang produknya dikenal dengan merek Levis.

Dalam ilmu psikologi, dikenal bermacam jenis kecerdasan. Selama ini orang hanya mengenal istilah IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Namun masih ada jenis kecerdasan lain bernama AQ (Adversity Quotient), yakni kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang. Dahulu Israel dikenal sebagai negeri yang gersang. Seluruh negeri dikelilingi hamparan gurun pasir, tak ada satu pun tanaman bisa tumbuh kecuali kaktus. Sumber air pun tidak ada, lalu apa yang mau diharap dari negeri seperti itu? Namun sebagai bangsa yang cerdas, bangsa Yahudi terus maju dan tidak menyerah dengan kondisi alam seperti itu. Didukung kecanggihan teknologi, saat ini Israel dikenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di dunia.

Tuhan berkuasa mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan, sesuatu yang mustahil bagi logika manusia . Hal ini yang dikehendaki Tuhan atas gerejaNya. Jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada dan setialah berpegang pada Tuhan !!

By : Manna Sorgawi

Leave a Reply