Fine Art Photography?

Banyak diantara kita yang berpikir untuk menekuni Fine Art Photography dalam hidup berfotografinya. Hal tersebut adalah sah-sah saja karena setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing. Kebanyakan beralasan bahwa membuat ‘sesuatu yang fine art’ tidak perlu belajar teknik susah payah, buat saja ‘suka-suka’ lalu memproklamirkan diri sebagai seniman!

Sebenarnya apakah yang dinamakan Fine Art Photography yang membedakannya dengan genre fotografi yang lain?

Saya akan mencoba merenungkannya sebagai orang yang cukup lama bergelut didunia fotografi walaupun tidak didunia art secara khususnya.

Fine Art  berbeda  dengan Commercial Art yang berarti seni yang menjual.  Commercial Art  seperti yang kita kenal dalam dunia fotografi professional misalnya, melibatkan pihak kedua yaitu pihak pembeli atau pemesan (klien). Jadi kita bekerja sesuai pesanan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini fotografi tidak berbeda dengan bidang-bidang jasa lainnya seperti musik ataupun seni lukis.

Fine Art  (seni murni) dilain pihak tidak mensyaratkan adanya pembeli / klien. Artist atau  seniman membuat karya sesuai kehendak hatinya tanpa memikirkan kompensasi dalam bentuk uang.

Saya pernah bertanya kepada pak Ketut Tulak seorang pemahat patung kayu eboni yang terkenal di Bali : “Apa yang pak Ketut pikirkan pada saat membuat patung?”

Jawabnya: “Pada saat saya mulai membuat patung, yang ada dalam pikiran saya adalah bentuk akhir patung itu walaupun didepan saya masih berbentuk kayu gelondongan. Saya tidak pernah dan tidak mau memikirkan uang pada waktu saya menciptakan patung.”

Saya penasaran dan bertanya lagi, “Lalu, kalau ada yang mau membeli?”

Pak Ketut menjawab: “Tidak saya jual!”

“Lho…, lalu bagaimana?” (Maksud saya, ya bagaimana cara hidupnya kalau tidak mau menjual karyanya?)

“Saya akan bertanya dulu, berapa jumlah (uang) yang dia relakan untuk merawat karya saya? Jadi saya tidak akan menentukan ‘harga’ karya seni saya.”

Oh, jadi begitu cara berpikir seorang seniman rupanya!

Seorang seniman tidak akan menentukan ‘harga’ karya seninya. Seperti dikatakan pak Suteja Neka, pemilik Neka Museum dan Gallery di Ubud, Bali pada saya: “ Karya seni adalah seperti anak-anak dari penciptanya”, dan kita tidak mau menjual anak-anak kita bukan?

Lalu bagaimanakah caranya menjadi seorang seniman yang melulu menekuni seni murni atau fine art seperti pembicaraan kita diatas?

Untuk menjadi seniman, pertama-tama seorang haruslah mempelajari dahulu teknik dasar  atau basic bidang yang ia pilih. Dikatakan bahwa teknik bisa saja ada tanpa seni, tapi seni tidak bisa ada tanpa teknik!

Atau seperti dikatakan Bruce Lee “Seni adalah teknik dasar yang diulang-ulang.”

Banyak orang dapat bermain bola basket, tapi berapa orang yang dapat membawa permainan bola basket hingga menjadi menjadi indah? Kita dapat meneruskan pertanyaan ini pada permainan sepak bola,  piano, gitar, seni pengobatan dan lain lain.

Jika kita menggambar wajah orang berbentuk kubus, apakah kita sedang membuat fine-art? Tidak, kecuali yang menggambar adalah  seorang Pablo Piccasso yang notabene juga mulai dari cara melukis konvensionil baru kemudian melukis gaya kubisme.

Jadi kepada mereka yang  berpikir untuk menekuni fine-art dalam bidang apapun atau dalam hal ini fine art photography, kuasailah dulu teknik dasar dan teruslah berlatih sampai menemukan suatu cara yang keluar dari dalam hati dan bukan mengikuti selera pasar yang berakhir pada “kejar setoran”.

Sesuatu yang keluar dari hati pasti akan menarik perhatian orang lain (dunia).

Saya teruskan obrolan kita dengan pertanyaan yang pasti ada dibenak kita, ”Apakah kita dapat hidup dari fine art?”

Disini saya akan menyebutkan syarat kedua untuk dapat hidup sebagai seniman, yaitu harus mempunyai filsafat hidup sebagai seniman yang tidak tergantung pada materi melainkan lebih pada kepuasan batin.

Seperti yang dikatakan pak Joger, seorang seniman seni hidup di Bali,  ‘menjadi seniman adalah happiness oriented, bukan profit oriented’!

Kita dapat melihat sekeliling kita, dari sekian banyak seniman fine art dalam segala bidang termasuk fotografi, berapa nama yang kita kenal (dan dapat hidup dari seninya)?

Jadi, kalau kita mau menekuni fine art photography, setelah mengetahui syarat pertama dan kedua, apa yang harus kita lakukan?

Sebaiknya kita menjawab dahulu pertanyaan ini, “How much are you willing to suffer for your art?” (Sejauh manakah anda bersedia menderita untuk seni anda? )

Kita tentunya boleh-boleh saja menekuni fine art photography, tetapi sebaiknya kita memiliki pekerjaan lain yang cukup menghasilkan untuk hidup sehari-hari lebih dahulu, apakah itu sebagai pemilik restoran dengan beberapa outlet, bekerja sebagai pialang saham pada hari kerja dan fotografi pada akhir pekan atau  menjadi CEO salah satu perusahaan yang mempunyai hobby golf dan fotografi sebagai sampingan. (Ini tentunya jika kita tidak mau termasuk kelompok ‘seniman melarat’!)

Untuk mereka-mereka yang disebutkan diatas, menjalani fine art photography (dan bahkan dapat menjualnya!) lebih mudah daripada mereka yang melulu menekuni fine art photography dari mula. Faktor lingkungan juga memainkan peranan penting, karena harus diakui menekuni fine art  membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Nah, semoga obrolan ini dapat lebih menjadi bahan pertimbangan bagi kawan-kawan yang mempunyai keinginan bergelut dalam bidang Fine Art Photography.

 

Selamat berkarya!

BSD City, 13 Oktober 2010

Kayus Mulia, pengajar pada Arno Mulia Photography Workshops

Ps: Terima kasih kepada Sdr.Lindung Soemarhadi yang mengilhami tulisan ini.

Diambil dari Facebook Notes Kayus Mulia

Leave a Reply