Roti Gosong

Ketika saya kecil, saya masih ingat, ibu suka membuat makanan untuk makan malam kami. Malam itu, ibu meletakkan di depan ayah sebuah piring berisi telur, sosis dan roti yang gosong terbakar.

Saya ingat sekali, saya menantikan reaksi semua orang, apakah mereka tahu bahwa roti ayah gosong terbakar. Tetapi ayah saya mengambil rotinya dan memakannya seperti biasa. Ia seolah tidak merasakan pahitnya roti yang gosong itu, malah ia tersenyum kepada ibu dan bertanya kepada saya, apakah saya menikmati pelajaran sekolah hari itu. Aku tidak ingat apa jawabanku malam itu kepada ayah, tetapi aku ingat ia menikmati setiap gigitan roti yang gosong itu. Ketika aku meninggalkan meja makan, aku mendengar ibu meminta maaf untuk roti yang gosong itu. Dan aku masih ingat ayah berkata, “Sayang, aku suka roti gosong.”

Ketika aku memberikan ciuman kepada ayahku malam itu, aku bertanya kepadanya, “Ayah, apa ayah betul-betul suka roti gosong?” Ayah meraih dan merangkul aku dengan tangannya, dan ia berkata, “Sayang, ibumu sudah bekerja keras seharian dan dia betul-betul lelah. Di samping itu, roti gosong tidak akan pernah mencelakai siapa pun juga.”

Hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna. Kita sendiri bukan orang yang terbaik di dalam bidang kita, ada banyak hal yang seringkali terlupakan oleh kita atau kita lakukan dengan salah, bahkan kita pernah lupa hari ulang tahun pernikahan kita sendiri, sama seperti yang juga dilakukan oleh orang lain.

Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menerima satu dengan yang lain apa adanya dan tidak menuntut orang lain berlaku dengan sempurna sementara kita sendiri juga masih banyak kekurangan. Yang paling penting kita lakukan di dunia ini adalah membangun hubungan yang sehat dan yang kekal, yang bertumbuh ke arah Dia.

Sikap saling menerima seperti ini tidak hanya berlaku di dalam hubungan suami-istri atau orang tua dan anak, tetapi juga dengan sesama kita di kantor, di gereja, di lingkungan kita, di kampus, di pelayanan dan di manapun kita berada selama masih ada manusianya dan manusia itu pasti tidak ada yang sempurna.

Dua kunci utama untuk dapat menerima orang lain apa adanya adalah:

Pertama, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah menerima kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan keberdosaan kita. Kita berharga di mataNya dan Ia tidak melihat kita dengan segala kekurangan kita. Ia menerima kita dan terus berusaha menuntun kita menuju ke kesempurnaan.

Kedua, pikirkanlah bahwa diri kita pun juga tidak sempurna, ada atau mungkin juga banyak kekurangannya, dan kita pun bisa berbuat kesalahan yang sama dengan yang dibuat orang lain. Jangan penuhi hati dan pikiran kita dengan tuntutan, tetapi penuhilah dengan sikap penerimaan yang positif, ini akan membantu orang lain juga untuk bertumbuh lebih baik.

By : Manna Sorgawi

Leave a Reply