Tak Selamanya Baby Walker Itu Baik

Berdalih tak ingin kerepotan untuk memapah anak dalam proses belajar berjalan, banyak orang tua memilih menggunakan baby walker. Dengan begitu, orang tua tak perlu repot-repot memegangi sang anak yang sedang aktif merangkak dan berjalan. Namun, apakah keputusan orangtua membelikan baby walker pada buah hatinya adalah keputusan yang tepat?

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya, Dr Dharma Yudha, SpA mengatakan, kehadiran baby walker memang dapat mempermudah anak untuk belajar berjalan. Namun, pernah ada penelitian yang dilakukan di Kanada terkait dampak penggunaan baby walker pada bayi. Hasilnya, alat tersebut dinilai banyak memberikan dampak kurang baik bagi perkembangan sang buah hati, sehingga sejak tahun 2005 baby walker dilarang penjualannya di Kanada.

“Badan kesehatan di sana (Kanada) melarang penjualan baby walker karena dianggap berbahaya,” ungkap dokter Dharma

Tidak jauh berbeda dengan penelitian tersebut, lanjut dia, beberapa pasiennya pernah merasakan dampak negatif dari penggunaan baby walker. Selain banyak yang mengeluhkan kondisi anaknya yang merasakan sakit, sering juga terjadi insiden berupa kecelakaan akibat sang anak terjatuh dari lantai 2 rumah sehingga membuat cedera pada bagian kepala.

“Itu bisa jadi  karena kelalaian orangtuanya juga,” ungkap dokter Dharma.

Sedangkan dari sisi tumbuh-kembang anak, kelemahan baby walker adalah terlewatinya satu fase dalam proses belajar anak untuk berjalan. Idealnya, bayi merangkak terlebih dahulu, baru sedikit demi sedikit berpegangan pada benda atau tembok sampai akhirnya bisa berjalan. “Rata-rata bayi yang menggunakan baby walker akan melewatkan fase merangkak,” jelasnya.

Menggunakan baby walker, membuat proses belajar anak menjadi tidak alami dan dapat mempengaruhi otot pada bokong sang bayi. “Lagi-lagi karena alat tersebut, sang bayi dipaksakan belajar berjalan tanpa melalui fase merangkak,” tegasnya.

Risiko lainnya, seorang anak yang berada pada baby walker biasanya akan berjalan dengan cara berjinjit atau mendorong dengan kaki untuk bergerak, sehingga bisa jadi alat itu malah tidak membuat anak lebih cepat berjalan. “Walaupun hal itu jarang sekali ditemukan, tapi harus diwaspadai juga,” terangnya.

Untuk itu, dia menyarankan, baby walker sebaiknya tidak usah digunakan untuk berlatih berjalan. Namun, jika orang tua tak ingin kerepotan sehingga membeli alat itu, lebih baik digunakan ketika bayi sudah menginjak 9 bulan.

Selain itu, cara pandang orang tua yang menganggap dengan adanya baby walker tidak perlu lagi melakukan pengawasan dan memperhatikan gerak-gerik sang anak. Akibatnya, sering terjadi kecelakaan yang membuat sang anak mengalami cedera parah.

“Ini yang kadang keliru, harusnya diawasi bukan malah dilepas,” tandasnya.

Sumber : She.Yahoo.com

Leave a Reply